Klik di sini untuk mendukung atau memberikan donasi  

 

KOTA PALU MENYAPA DUNIA

Rencana dan Usulan


Paradoks Indonesia

Indonesia adalah negeri yang berlimpah dengan sumber daya alamnya. Negara kepulauan terbesar di dunia; memiliki 17.500 pulau dan 99.000 km lebih garis pantai, kedua terpanjang di dunia. Tetapi Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi, karena dilalui oleh jalur pertemuan tiga lempeng Indo-Australia , lempeng Eurasia dan lempeng Pasific.

Pergerakan lempeng tektonik ini menimbulkan sesar atau patahan (fault). Sesar menghasilkan gempa besar dan kecil serta memiliki siklusnya masing-masing. Salah satu wilayah yang dipenuhi oleh sesar adalah adalah Sulawesi Tengah, salah satu yang terbesar dikenal dengan nama Sesar Palu-Koro. Sesar ini memanjang mulai dari Teluk Palu sampai ke Teluk Bone, kurang-lebih 500 km, melewati Donggala, Palu, dan Lembah Koro.

Bila siklus gempa besar di sesar ini tiba, maka diperkirakan akan terjadi gempa berkekuatan lebih dari 7,5 SR. Ada jutaan orang yang hidup dan tinggal di wilayah yang dilalui Sesar Palu-Koro. Selain masyarakat, juga ada ribuan jenis tumbuhan, hewan endemik yang menempati kawasan hutan, laut yang dilalui oleh sesar tersebut. Termasuk juga situs megalitik yang berada di 3 lembah. Siklus seratus-tahunan ini menurut ahli geologi sudah tiba saatnya sekarang.

Sejarah mencatat, bahwa gempa dan tsunami beberapa kali terjadi ratusan tahun lalu, bahkan Abdullah, Wakil Dekan FMIPA Universitas Tadulako mencatat, 90 tahun yang lalu wilayah sekitar Teluk Palu hancur akibat gempa dan tsunami. Gempa ini sering disebut Gempa Donggala atau Watusampu pada tahun 1927. Sulawesi sendiri memiliki empat sesar, yaitu sesar Koro, sesar Saddang, sesar Matano, dan sesar Gorontalo.

Catatan sejarah itu masih tersimpan dalam ingatan beberapa orang yang kami temui ketika melakukan survey pendahuluan (Mei 2017) menjelang Ekspedisi Sesar Palu-Koro. Catatan sejarah tersebut masih tersimpan di ingatan para tetua adat, orang-orang tua yang mengalami peristiwa tersebut. Tentu menarik untuk digali lebih jauh bagaimana masyarakat kembali membangun wilayah-wilayah yang hancur, serta beradaptasi dengan berbagai bencana yang dihadapi di masa lalu.

Dalam rangka ini, kami sudah merancang sebuah ekspedisi yang diberinama Ekspedisi Palu-Koro yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2017 nanti. Koordinasi sudah dilakukan dengan dua puluh lima orang (25 orang) yang terdiri dari ahli geologi, geopark, antropologi, arkeologi, sosilogi, biologi, sejarawan, dan ahli bencana.

Sesar Palu-Koro ini, memotong Kota Palu (Lembah Palu) dan Sungai Lariang pada segmen Sungai Koro (Lembah Koro). Lajur sesar, memanjang mulai dari sekitar batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar sampai pantai utara Teluk Bone. Panjangnya sekitar 500 km. Di darat, sesar ini mempunyai panjang sekitar 250 km, mulai dari Teluk Palu sampai pantai utara Teluk Bone. Sesar ini diduga sebagai salah satu patahan yang mengkhawatirkan. Wilayah yang rawan akibat aktifitas sesar ini antara lain : Kabupaten Buol, Toli-toli, Donggala dan Kota Palu.

Hasil penelitian selama dua bulan nanti akan menjadi informasi yang kaya untuk menjadi bahan perencanaan bukan saja untuk Sulawesi Tengah, tetapi juga wilayah-wilayah lain bahkan negara lain yang memiliki kemiripan yang sama, seperti Welington di New Zaeland, serta San Francisco di California.

Ada banyak pengetahuan yang sebenarnya tertanam di masyarakat, pengetahuan tersebut menyebar dalam ingatan, muncul dalam bentuk desain rumah sederhana yang tahan gempa, atau tari-tarian tradisional untuk menolak goncangan yang keras. Juga nyanyian tradisional. Ingatan tersebut kini hanya ada di tetua adat, atau para sesepuh di tengah masyarakat. Padahal ini adalah rangkaian sejarah dan pengetahuan penting.

Bagaimana pun masyarakat Sulawesi Tengah adalah masyarakat yang sangat adaptif, berbagai persitiwa alam mampu membuat mereka beradaptasi dengan baik, di pedalaman yang sulit dijangkau mereka mampu menghidupkan budaya dan menumbuhkan toleransi.

Para geolog sekarang sedang mengamati persitiwa gempa yang terjadi tahun 2012, kemudian disusul tahun 2017 di wilayah Poso. Apakah itu merupakan rangkaian persitiwa yang akan mempengaruhi posisi Sesar Palu-Koro ? Juga peristiwa sembilan puluh tahun (90 Tahun) lalu di tahun 1927. Akankah dalam waktu dekat akan terjadi kembali ?

Seminar Kota Palu Menyapa Dunia”, mengajak seluruh pemerhati kebencanaan untuk berkumpul membahas berbagai kemungkinan serta membahas hasil temuan akhir para peneliti yang ikut dalam Ekspedisi Palu Koro.

 

Seminar 1 hari

Peringatan 90 tahun gempa bumi dan ‘air laut berdiri’ di wilayah Teluk Palu adalah sebuah kegiatan bagi para praktisi PRB untuk membagi pengalaman dan ilmu pengetahuan dan hal-hal yang berkaitan dengan sesar aktif, gempa bumi dan tsunami. Kegiatan ini tidak hanya berguna bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia, terutama wilayah yang memiliki sesar aktif.

Riset mengenai bencana yang terjadi 90 tahun lalu sudah dibuat oleh beberapa peneliti. Tentu ini bisa berguna bagi siapa pun, juga bisa menjadi dasar bagi upaya atau sosialisasi PRB. Masyarakat diharapkan akan lebih tangguh dalam menghadapi bencana jika lebih sadar PRB lebih dini.

 

Tujuan:
1. Memberi peringatan kepada dunia:
a. Gempa besar akan berulang, karena memiliki siklus
b. Jika ada sesar aktif, maka akan ada siklus gempa besar
c. Sesar aktif ada di mana saja di dunia ini?
2. Membangun network antar negara yang memiliki sesar aktif.
3. Menyiapkan upaya PRB di wilayah sesar aktif
4. Membangun Knowledge Management Center

 

Waktu dan Tempat

Kegiatan ini akan dilaksanakan di Jakarta,  Desember 2017 (to be confirmed very soon)

 

Agenda

NO MATERI PEMBICARA WAKTU
1 Sambutan Direktur PRB – BNPB

 

09.00 – 09.10
2 Diskusi

  1. Sesar Palu Koro dulu, kini dan masa yang akan datang
  2. Masyarakat Palu dan Kesiap siagaan
  3. Pendidikan Bencana sejak dini
  4. Gempa dan Tsunami potensi di wilayah lain
 

Mudrik Daryono

 

Ivan Aulia Ahsan

 

Michele Daly – GNS

Eko Yulianto

 

09.10 – 12.30

3 Makan Siang    

 

Peserta

  1. Akademisi
  2. Media
  3. Pemerhati kebencanaan
  4. Pemerintah

 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Trinirmalaningrum di +62 817-6716-970

riniskala@gmail.com

Klik di sini untuk mendukung atau memberikan donasi  

 

#EkspedisiPaluKoro