Ekspedisi Palu-Koro penting sebagai upaya kreatif dalam Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, bencana banjir dan longsor adalah bencana yang nyaris terjadi setiap waktu di Indonesia. Ada juga kekeringan, juga kebakaran hutan & lahan, serta berbagai bencana sebagai dampak dari perubahan iklim.

Kemudian ditambah dengan bencana gempa dan tsunami yang berasal dari 295 sesar aktif yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Banyaknya sesar aktif di Indonesia disebabkan oleh pertemuan atau pergesekan 3 lempeng tektonik di wilayah Indonesia.

Jadi ekspedisi ini tidak akan berhenti hanya pada wilayah Sulawesi Tengah yang dipenuhi dengan sesar aktif, tetapi ekspedisi juga akan dilanjutkan di wilayah lain yang terancam oleh bencana. Bahkan ekspedisi juga akan dilanjutkan dengan berbagai diskusi, seminar dan berbagai pelatihan untuk memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.

Untuk itu tim ekspedisi telah melobi berbagai pihak yang memiliki kepedulian pada upaya PRB ini agar ikut terlibat dalam ekspedisi ini. Salah satu yang baru-baru ini kita temui adalah Sekretariat Nasional Jaringan Organisasi dan Komunitas Warga Indonesia.

Osmar Tanjung dari Sekertariat Nasional Jaringan Organisasi dan Komunitas Warga Indonesia di kantornya bersama tim Ekspedisi Palu-Koro.

Hanya beberapa hari setelah pertemuan dengan Osmar Tanjung dari Sekretariat Nasional Jaringan Organisasi dan Komunitas Warga Indonesia, ia kemudian pada 14 Agustus 2017 mengantarkan tim Ekspedisi Palu-Koro untuk bertemu dengan Sidarto Danusubroto dari Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Hasil dari pertemuan ini adalah untuk segera menggelar workshop dengan beberapa pejabat dari institusi pemerintah yang terkait dengan pelaksanaan Ekspedisi Palu-Koro.