Ekspedisi Palu-Koro – Awal September 2017 lalu, berbagai media menulis pernyataan Tim Pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 tentang penambahan sumber gempa baru, yaitu berupa 214 patahan aktif, sebagian di antaranya melintasi kota-kota besar. Di bawah ini adalah sebagian tulisan yang kami kutipkan dari Kompas 4 September 2017.

Peta itu harus jadi dasar perencanaan dan perancangan bangunan. ”Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 ini akan jadi peringatan bagi perencana, terutama di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Peta ini diharapkan jadi rujukan dan diterapkan dalam perencanaan dan perancangan infrastruktur tahan gempa,” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) M Basuki Hadimuljono saat meluncurkan peta ini.

Tantangan untuk mengantisipasi risiko gempa itu, misalnya, dalam pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung. ”Sebanyak 60 persen jalur kereta cepat ini adalah jembatan, 30 persen terowongan, hanya 10 persen di permukaan. Kita juga membangun banyak bandara yang sebagian berada di jalur gempa. Ini harus jadi perhatian,” ujarnya.

Peta gempa bumi 2017 ini merupakan pemutakhiran peta versi tahun 2010. Jika dalam peta sebelumnya hanya ada 81 jalur patahan aktif di Indonesia, dalam peta terbaru ini ditambahkan jadi 295 patahan aktif atau bertambah 214 sumber gempa baru.

Jika pada peta 2010 di Sumatera ada 19 sumber gempa, pada peta terbaru menjadi 55 sumber. Di Jawa, dari 10 sumber menjadi 37 sumber gempa. Di Sulawesi, dari 12 sumber gempa, kini jadi 48 sumber. Maluku dan Papua yang semula 12 sumber gempa menjadi 79 sumber. Adapun Nusa Tenggara dan Laut Banda yang semula belum teridentifikasi kini ditambahkan 49 sumber.

Ketua Tim Pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 Masyhur Irsyam mengatakan, selain penambahan sumber patahan baru, timnya juga merelokasi lebih dari 12.000 pusat gempa. ”Penambahan data baru karena kami memakai data dasar lebih baik. Sejak beberapa tahun terakhir studi sesar aktif dilakukan dengan berbagai metode,” ucapnya.

 

Meningkatkan risiko

Menurut Ketua Kelompok Bidang Geologi Danny Hilman Natawidjaja, dari aspek risiko bencana, penambahan sumber gempa baru di Jawa perlu mendapat perhatian serius. Itu karena sesar baru yang teridentifikasi melalui sejumlah kota besar padat penduduk, di antaranya Bandung, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Purwodadi, Cepu, dan Surabaya.

”Patahan Kendeng yang muncul di Jawa Timur bagian utara teridentifikasi menyambung dengan patahan Beribis di Jawa Barat. Kemungkinan sampai ke Jakarta, tapi bukti geologinya banyak tertutup endapan dan permukiman. Ke depan, kajian kemenerusan sesar di Jakarta perlu dilihat lebih rinci,” kata Danny.

Guru Besar Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung Iswandi Imran mengatakan, pemutakhiran peta gempa Indonesia 2017 menunjukkan risiko gempa naik sehingga menuntut peningkatan persyaratan desain struktur bangunan. Jadi, standar nasional Indonesia tentang konstruksi bangunan tahan gempa akan diubah.

Sementara Mohammad Ridwan dari Pusat Perumahan dan Permukiman Kementerian PUPR mengatakan, revisi peta itu menuntut pembuatan mikrozonasi gempa. Mikrozonasi itu untuk menentukan karakteristik goyangan gempa spesifik demi kepentingan konstruksi bangunan dan perencanaan kawasan. Masyhur menambahkan, penerapan peta sumber dan bahaya gempa itu amat penting untuk menekan risiko bencana.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah korban jiwa akibat bencana di Indonesia pada 1815-2016 yang tertinggi akibat gempa dan tsunami, yakni 57 persen di antaranya. Namun, penerapannya sulit, terutama bagi bangunan lama yang dibangun sebelum ada peta terbaru.

(Sumber: Kompas)

#EkspedisiPaluKoro