http://EkspedisiPaluKoro.co – Dari sejarah kegempaan, Jakarta relatif aman sebagai pusat atau episentrum gempa. Namun Jakarta dapat terkena dampak gempa yang episentrumnya berada di wilayah sekitarnya. Jakarta berada di atas tanah yang sangat lemah dan rentan terhadap guncangan gempa. Secara geologi, Jakarta terbagi dua wilayah; Jakarta bagian utara di mana permukaan tanahnya merupakan tanah lunak berusia holosen, dan Jakarta bagian selatan yang lapisan tanahnya relatif lebih padat dan berusia lebih tua (pleistosen).

Bila terjadi gempa kuat , wilayah Jakarta utara paling rawan mengalami proses likuifaksi atau amblasnya permukaan tanah karena perubahan sifat tanah dari padat menjadi air karena gempa. Disamping sifat tanah di wilayah utara  juga akan merambatkan getaran gempa sehingga mengalami amplifikasi atau perbesaran guncangan terhadap gedung-gedung di atasnya. Hal ini yang membuat Jakarta turut merasakan guncangan gempa Tasikmalaya yang pusatnya berjarak hampir dua ratus km dari Jakarta. Saat itu, wilayah Utara Jakarta mengalami amplifikasi gempa hingga 2 kali, sementara wilayah selatan Jakarta mengalami amplifikasi gempa sebesar 1,5 kali (Ir Engkon K Kertapati, peneliti pada Pusat Survei Geologi)

Peneliti Gempa LIPI Dr Danny Hilman Natawidjaya mengatakan bila gempa Tasik bermagnitudo lebih besar, misalnya lebih dari 8SR, maka gempa itu bisa memporakporandakan Jakarta. “Ini bisa mematikan, seperti kejadian gempa di Meksiko tahun 1985,” kata Danny. Saat itu, ia menjelaskan, sumber gempa berjarak lebih dari 300 km. Namun, dengan kekuatan gempa sebesar 8,1 SR, gempa itu meratakan kota Mexico City yang mengakibatkan setidaknya 9.500 orang tewas, 30 ribu orang terluka, lebih dari 100 ribu orang menggelandang karena rumah mereka hancur, 412 bangunan tumbang dan 3.124 bangunan lainnya rusak di Mexico City, dengan jumlah kerugian mencapai US$ 3 – 4 miliar.. Jangan lupa, Jakarta  punya sekitar 1400 gedung tinggi dan merupakan wilayah padat penduduk.  Bisa terbayang dampak  bila hal serupa melanda Jakarta.

Kenapa jarak pusat gempa yang begitu jauh tetap bisa mengoyak bangunan-bangunan di Mexico City? Ternyata kota itu berdiri di atas endapan lempung vulkanik yang berusia kurang dari 2.500 tahun. Ini menyebabkan getaran gempa di permukaan tanah bisa mengalami amplifikasi antara 4-5 kali, dan amplifikasi gempa pada bangunan bisa mencapai 21 kali lipat dari getaran di batuan dasar.

Gedung-gedung di Jakarta,harus  memenuhi standar tahan gempa hingga >8 Skala Richter. Sesuai standarisasi pembangunan gedung melalui SNI 03-1726-2002. Ada beberapa tahapan yang perlu dilewati dalam sebuah perencanaan bangunan di Jakarta agar tahan gempa.

Pertama, harus diketahui goyangan atau percepatan di batuan dasar. Angka ini bisa diperoleh dari Peta Gempa Indonesia 2010, di mana percepatan di batuan dasar (Peak Base Acceleration/ PBA) Jakarta adalah 0.19 g (g = gravitasi bumi = 981 cm per detik kuadrat)  untuk 10 persen kemungkinan terjadinya dalam 50 tahun dan untuk perioda ulang gempabumi  475 tahunan.

Setelah itu, perlu diketahui pula percepatan di permukaan tanah dengan menghitung efek kondisi tanah setempat, misalnya apakah tanah lunak atau tanah keras. Untuk Jakarta, goyangan di batuan dasarnya bisa saja sama, namun goyangan di permukaan tanah Jakarta Utara dan Jakarta Selatan berbeda, karena perbedaan tanahnya. Terakhir, perlu diperhitungkan goyangan di bangunannya sendiri, yang didasarkan pada perilaku bangunan tersebut. Dengan mengetahui goyangan pada bangunan, maka dapat dihitung besarnya gaya gempa pada bangunan.

Sayangnya  Jakarta masih belum punya  peta mikrozonasi gempa, yang bisa secara lengkap menyediakan informasi peta kelabilan tanah, termasuk angka percepatan/ goyangan di permukaan tanah di masing-masing wilayah Jakarta.

Padahal, Jakarta diintai oleh beberapa sumber gempa  yang  akan mengirim getaran gempa  ke wilayah Jakarta. Beberapa sumber gempa yang mengancam Jakarta adalah :

 

Megathrust Sumatera

Zona subduksi Sumatera merupakan sumber gempa yang sangat aktif, dengan jumlah kejadian gempa independen dengan magnitude lebih dari 5 adalah 240 kejadian dalam 40 tahun terakhir. Gempa terbesar terjadi pada 26 Desember 2004 dengan Magnitude 9,2.Pusat gempa pada 3.316° Lintang Utara dan 95.854° Bujur Timur atau sekitar 150 km sebelah barat pesisir pantai Aceh bagian barat, dengan kedalaman 30 km (USGS Earthquake Center). Lempeng Indo-Australia bergerak relative terhadap Lempeng Eurasia dengan kecepatan 65 mm/tahun pada arah sekitar N10°E (Sieh et al, 2000). Dari data epicenter gempa terlihat bahwa zona ini termasuk zona dangkal dengan sudut penunjaman bervariasi antara 13° -15° terhadap horizontal.

 

Megathrust Jawa

Pada sumber gempa ini, lempeng Australia bergerak ke arah utara dengan kecepatan 77 mm/tahun. LempengAustralia menunjam ke bawah lempeng Sunda pada pertemuan kedua lempeng yang membentuk Palung Jawa di selatan Jawa, dan terus menunjam ke bawah sampai berada di bawah Pulau Jawa bahkan sampai ke utara Pulau Jawa (Zona benioff). Zona ini juga merupakan zona gempa dengan tingkat aktifitas yang tinggi. Tercatat beberapa gempa gempa besar yang pernah terjadi pada zona ini, antara lain: 20Agustus 1977 terjadi gempa dengan magnitude 8.3 yang menghasilkan tsunami dengan ketinggian 15 m dan mengakibatkan 200 orang meninggal dunia. Terakhir gempa dengan magnitude 7.7 pada 17 Juli 2006 dengan pusat gempa pada 9.222° Lintang Selatan dan 107.320° Bujur Timur atau sekitar 230 km sebelah selatan Tasikmalaya pada kedalaman 34 km, yang juga menghasilkan tsunami. Dalam kejadian ini 403 orang menjadi korban.

 

Benioff Sumatera

Tercatat 114 kejadian gempa independen dengan M >5 untuk 40 tahun terakhir. Zona benioff ini diperhitungkan dari kedalaman 50 km – 200 km,dengan sudut penunjaman antara 40° – 45°. Gempa terbesar pada zona ini tercatat pada 28 Desember 1935 pada koordinat 98.3° Bujur Timur dan 0° Lintang dengan magnitude 8.1.

 

Benioff Jawa

Zona ini juga merupakan zona aktif dengan 234 kejadian gempa independen dalam 40 tahun terakhir. Pencatatan terakhir gempa yang dengan magnitude cukup besar pada 9 Agustus 2007 (M = 7.5) di 5.968° Lintang Selatan dan 107.655° Bujur Timur atau sekitar100 km sebelah timur Jakarta, pada kedalaman 289km. Sudut penunjaman untuk zona ini sekitar 50°. Data gempa diambil pada kedalaman 50 km – 500 km. 3.5 Sesar Sumatera. Sumber gempa ini cukup aktif, yang terdiri atas beberapa segmen. Gempa dengan magnitude 7.5 terjadi pada 9 Juni 1943. Slip rate sumber gempa Sesar Sumatera berkisar 6-27 mm/tahun, dapat dilihat padaTabel 1 (M.D. Petersen et. al, 2004). Nilai slip rate yang digunakan dalam studi ini adalah 11 mm/tahun.

 

Sesar Cimandiri (Sukabumi)

Sesar Cimandiri adalah sesar aktif yang terdapat di Selatan Sukabumi yang terbentuk akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia di bawah lempeng Eurasia. Sesar ini berarah Barat Daya-Timur Laut (strike N 68° E) dan memanjang dari Pelabuhan Ratu sampai ke Lembang. Sesar ini terletak di daerah yang padat penduduk. Mekanisme sesar Cimandiri berupa reverse fault dengan kemiringan sesar sebesar 30o, sliprate 2 mm/tahun (Kertapati, 2006).

 

Sesar Lembang

Mekanisme sesar Lembang berupa normal fault dengan slip rate 2 mm/tahun (Kertapati, 2006). Sesar Lembang merupakan salah satu landmark geologis yang paling menarik di dataran tinggi Bandung dengan ekspresi geomorfologi yang jelas dari aktivitas neotektonik di Cekungan Bandung. Keberadaannya yang dekat dengan area pemukiman di sepanjang Lembang hingga Cisarua, mengakibatkan sesar ini berpotensi menyebabkan bencana pada daerah dan sekitar wilayah tersebut. Sesar Lembang yang letaknya di utara Bandung, membentang sepanjang kurang lebih 30 km dengan arah barat-timur. Sesar ini berjenis normal fault (sesar turun) dimana blok bagian utara relatif turun membentuk morfologi pedataran (pedataran Lembang).

 

Sesar Baribis

Sesar Baribis yang letaknya di bagian utara Jawa merupakan sesar naik (reverse fault) dengan kemiringan sebesar 31o, slip rate 1,5 mm/tahun (Achdan dan Sudana, 1992) dan dengan arah relative barat-timur, membentang mulai dari Purwakarta hingga ke daerah Baribis di Kadipaten-Majalengka. Bentangan jalur sesar Baribis dipandang berbeda oleh peneliti lainnya. Simandjuntak (1996) menafsirkan jalur sesar naik Baribis menerus ke arah timur hingga menerus ke daerah Kendeng (Jawa Timur). Secara tektonik, sesar Baribis mewakili umur paling muda di Jawa, yaitu pembentukannya terjadi pada periode Plio-Plistosen. Selanjutnya oleh Martodjojo dan Pulunggono (1994), sesar ini dikelompokan sebagai Pola Jawa.

 

Sesar Bumiayu

Dari pencatatan gempa dari tahun 1974 sampai 2009,terdapat delapan gempa yang berasosiasi dengan sumber ini. Sesar ini terletak pada perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Mekanisme sesar Bumiayu berupa reverse fault dengan kemiringansebesar 90o, slip rate 2 mm/tahun (Kertapati, 2006).

***

 

Kemungkinan Jakarta juga lebih rawan “serangan” gempa dari arah selatan, yaitu dari Pelabuhan Ratu – Sukabumi dan sekitarnya. Karena sampai saat ini data gravity dan seismik menunjukkan tinggian-rendahan utama yg dibatasi patahan di daerah Jakarta arahnya utara selatan. Salah satu dari patahan itu membatasi Tinggian Tanggerang di bagian barat dari Cekungan Ciputat yang melampar ke timur sampai ke Tinggian Rengasdengklok. Patahan berarah utara selatan itu trase-permukaan-nya di sekitar jalur S. Cisadane. Jalur patahan di bawah permukaan bisa diamati sampai ke daerah Leuwiliang Bogor, tetapi kemudian jejaknya tertutup oleh endapan volkanik Gn Salak. Kemungkinan jalur utara selatan melalui patahan itu bisa menerus di bawah Gn Salak sampai akhirnya terhubung dengan daerah Sukabumi – Pelabuhan Ratu. Jika terjadi pergeseran intra plate di penunjaman lempeng selatan Pelabuhan Ratu dan getaran gempanya bisa diteruskan ke utara lewat  jalur tersebut, maka Jakarta akan ikut bergoyang. Banyak bukti menunjukkan kalau gempa-gempa di selatan Jawa Barat juga ikut menggoyang  Jakarta (Gempa Pangandaran 2006, Gempa Tasikmalaya 2009, Gempa Sukabumi).

Tentang kemungkinan Jakarta diancam tsunami dari gempa Selat Sunda  maupun volcanic activity Krakatau, catatan sejarah membuktikannya. Juga penelitian Pak Danny Hilman dkk di daerah Batu Jaya, Krawang (Teluk Jakarta timur) tentang penyebab terkuburnya kebudayaan pra-sejarah disana  menunjukkan bekas adanya bencana purba. Bencana purba pada lapisan pengubur situs Batu Jaya antara abad 4-5 kemungkinan adalah Tsunami atau letusan gunung api dari Selat Sunda.

Dalam hal potensi ancaman gempa yg epicenternya di terusan patahan geser Sumatra ataupun Mentawai di Selat Sunda ataupun di zona penunjaman sebelah baratnya, kemungkinan besar daerah yang punya kelurusan struktur langsung dengan patahan tersebut  di Banten yang mendapatkan pengaruh goncangan terbesar.

Hubungan Teluk Jakarta dengan daerah Selat Sunda nampaknya lebih difasilitasi oleh terhubungnya kedua perairan tersebut oleh kolom air Laut Jawa diantara keduanya. Sampai sekarang belum ada data adanya kelurusan patahan arah barat-timur yang  menghubungkan keduanya. Dengan demikian potensi akan terjadinya tsunami sangat besar di Teluk Jakarta apabila terjadi gempa 8.7 SR Selat Sunda yg sedang diteliti. Perhitungan awal apabila terjadi gempa 8.5 SR di Selat Sunda, maka Kepulauan Seribu dan Teluk Jakarta akan terendam tsunami yang run-up-nya sampai dengan 1 meter.

Memang kita semua harus terus bersiap dan meningkatkan kewaspadaan. Jakarta ternyata juga punya  potensi  besar dari ancaman gempa dan  tsunami.

Mitigasi bukan sekedar menyebar issu atau bahkan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membuat kita semua lebih siaga dan waspada. Semua harus mengantisipasi semua kemungkinan jatuhnya korban jiwa dan materi.

Sumber :  Dr Andang Bachtiar (geologis)

Jurnal Teknik Sipil Vol. 16 No. 3 Desember 2009