http://EkspedisiPaluKoro.co – Senin siang lalu  27/11/2017, di Ruang Presentasi Perpustakaan MPR RI diselenggarakan sebuah diskusi bertajuk “Pembangungan Infrastruktur dan Ancaman Bencana Gempa” dengan pembicara: DR. Moh. Ridwan Dipl. E.Eng dari Peneliti Gempa, Pusat Litbang Perumahan permukiman, PUPR, Ir. Sukmandaru M.Sc. dari IAGI, dan Trinirmalaningrum dari Perkumpulan SKALA. Diskusi ini kerjasama antara Perpustakaan MPR RI dengan Perkumpulan SKALA dan Tim Ekspedisi Palu-Koro. Satu pembicara, DR. Sutopo Purwo Nugroho, Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB batal hadir, karena di waktu yang sama harus menyelenggarakan konferensi pers soal Gunung Agung, Bali yang baru saja meletus.

Meski diselenggarakan di gedung DPR RI, banyak yang kecewa, karena tidak dihadiri oleh anggota Dewan Yang Terhormat. Jojo Rahardjo dari Perkumpulan SKALA yang juga menjadi panitia terkejut, karena menurutnya anggota dewan sudah diundang oleh pihak pemilik tempat yaitu Perpustakaan MPR. “Kami dari LSM mengundang pembicara, para ahli, media dan teman-teman LSM,” jelas Jojo. Media memang sedikit yang hadir, karena mereka sedang mengikuti konferensi pers soal Gunung Agung baru saja meletus, Bali di kantor BNPB jalan Pramuka, Jakarta.

Diskusi ini mencoba mengangkat sisi lain dari pembangunan infrastruktur yang gencar dari pemerintahan Jokowi, yaitu sisi kebencanaannya. Jadi bukan sisi ekonomi atau politiknya sebagaimana yang sudah banyak dibicarakan media belakangan ini. Sisi kebencanaan kurang disorot, padahal menurut aktivis kebencanaan amat penting, karena memiliki dampak ekonomi, sosial dan politik.

 

LATAR BELAKANG DISKUSI

Bulan September 2017 lalu, Kementerian PUPR meluncurkan peta sumber dan bahaya gempa terbaru. Peta tersebut untuk digunakan sebagai pertimbangan dalam menyusun perencanaan pembangunan proyek infrastruktur. Peta yang diupdate setiap 5 tahun itu menemukan 295 sesar aktif yang tersebar di seluruh Indonesia, kecuali Kalimantan. Angka ini di tahun 2010 hanya berjumlah 89 sesar aktif saja.

Data ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat rawan bencana gempa, walau belum dapat diperkirakan berapa skala richter gempa tersebut akan terjadi pada masing-masing titik. Namun berdasarkan jejak gempa yang tertinggal, ahli geologi dapat memprediksi besar gempanya.

Jika pada peta 2010 di Sumatera ada 19 sesar aktif, pada peta terbaru menjadi 55. Di Jawa, dari 10 menjadi 37. Di Sulawesi, dari 12 sesar aktif, kini jadi 48. Maluku dan Papua yang semula 12 menjadi 79. Adapun Nusa Tenggara dan Laut Banda yang semula belum teridentifikasi kini ditambahkan 49 sumber. Ketua Tim Pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 Masyhur Irsyam mengatakan, selain penambahan titik sesar aktif baru, timnya juga merelokasi lebih dari 12.000 pusat gempa. ”Penambahan data baru karena kami memakai data dasar lebih baik. Sejak beberapa tahun terakhir studi sesar aktif dilakukan dengan berbagai metode,” ucapnya.

Sejarah mencatat, Indonesia pernah mengalami beberapa peristiwa bencana di beberapa tempat, Aceh tahun 2004, mengalami gempa 9.0 Skala Richter dan tsunami yang menelan korban lebih dari 100.000 orang meninggal dunia, dan ratusan ribu rumah habis tersapu tsunami.  Kemudian di Mentawai, yang juga menewaskan ratusan orang dan meluluh lantahkan ratusan rumah yang berada di sekitar pantai. Padang juga mengalami hal yang sama,  begitu juga dengan Bengkulu dan wilayah lain di sekitar Sumatera. Karena memang wilayah-wilayah inilah yang dilalui oleh sesar Semangko.

Tidak hanya di Sumatera, di wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku dan Papua serta Nusa Tenggara Timur juga adalah wilayah rawan gempa, tercatat wilayah-wilayah tersebut kerap mengalami gempa.  Maluku saja, sepanjang tahun 2016 tercatat mengalami gempa sebanyak 1.147 kali, sementara Papua mengalami 346 kali guncangan gempa.

Sementara itu, kita semua mengetahui bahwa pemerintah saat ini tengah bekerja keras untuk membangun infrastruktur di beberapa wilayah.  Secara khusus wilayah timur memperoleh prioritas dalam proses pembangunan ini. Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo, meresmikan trans Papua, jalan sepanjang 284,3 Km, yang menghubungkan Wamena, Habena, Kenyam dan  Mumugu. Belum lagi beberapa ruas jalan tol yang sudah diresmikan terlebih dahulu.

Selain jalan, pemerintahan kabinet kerja ini juga mengembangkan berbagai moda transportasi,  Jabodetabek saat ini tengah giat dibangun LRT – Light Rail Transit, yang menghubungkan Jakarta dengan wilayah-wilayah penyangga  Bogor dan Bekasi, tentu harapannya agar kemacetan yang semakin meningkat, dapat teratasi.

Tidak hanya jalan-jalan tol dan sarana kereta api yang semakin membaik pelayanannya. Sulawesi pun kini mulai dioperasikan layanan kereta api.  Jalur kereta api Trans-Sulawesi adalah jaringan jalur kereta api yang dibangun untuk menjangkau daerah-daerah penting di Pulau Sulawesi. Jaringan jalur kereta api ini dibangun mulai pada tahun 2015 yang dimulai dari tahap I, yaitu jalur kereta api dari Makassar hingga Parepare. Proyek perkeretaapian Trans-Sulawesi ditargetkan mencapai panjang 2.000 kilometer dari Makassar ke Manado.

Sasaran dari pengembangan jaringan jalur kereta api di Pulau Sulawesi adalah untuk menghubungkan wilayah atau perkotaan yang mempunyai potensi angkutan penumpang dan barang atau komoditas berskala besar, berkecepatan tinggi, dengan tingkat konsumsi energi yang rendah dan mendukung perkembangan perkotaan terpadu melalui integrasi perkotaan di wilayah pesisir, baik industri maupun pariwisata serta agropolitan baik kehutanan, pertanian maupun perkebunan

Tentu pembangunan ini sangat penting bagi masyarakat Indonesia, dapat dibayangkan perekonomian Indonesia bakal berkembang dengan pesat, dengan terbukanya beberapa jalan-jalan yang semula terisolir.

Meski demikian para aktivis penanggulangan kebencanaan dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) berharap pemerintah juga menjadikan program pembangunan infrastruktur ini bisa terpadu dengan program PRB di wilayah rawan bencana gempa dan tsunami. Sebagaimana kita tahu rusak atau tidaknya infrastruktur amat menentukan program penanggulangan bencana setelah bencana terjadi. Mereka berharap program pemerintah ini juga memiliki guna bagi suksesnya program PRB atau program penanggulangan bencana.

 

DISKUSI:

Dalam presentasinya, Sukmandaru dari IAGI menyebutkan bahwa Kementerian PUPR telah memasukkan risiko bencana gempa dan tsunami ke dalam rancangan infrastruktur yang dibangun di wilayah bencana gempa seperti di Indonesia bagian Timur. Menurut Trinirmalaningrum, apa yang disampaikan Sukmandaru itu yang menjadi concern para aktivis Pengurangan Risiko Bencana (PRB) selama ini. Bahkan, lanjut Trinirmalaningrum lagi: “Aktivis PRB berharap agar pembangunan infrastruktur itu dipadukan dengan program PRB, sehingga berguna di saat bencana terjadi untuk menyalurkan bantuan dan pembangunan kembali.”

Sedangkan Moh. Ridwan dari Kementerian PUPR dalam diskusi yang dimoderatori oleh Jojo Rahardjo dari http://DisasterChannel.co ini banyak menyampaikan kerja badan penelitian gempa di PUPR yang ikut menyusun pemutakhiran data sumber gempa atau sesar aktif yang sebelumnya hanya diketahui berjumlah sekitar 80 buah saja. Bahkan PUPR juga ikut memberi masukan untuk penyusunan standar konstruksi berbagai bangunan, terutama bangunan publik. Informasi ini tentu hal baru bagi kebanyakan orang.

Beberapa peserta diskusi bertanya pada Moh. Ridwan antara lain tentang mengapa pemerintah yang dalam hal ini PUPR kurang aktif mensosialisasikan soal ancaman gempa ini.  Juga kurang membuat sosialisasi yang luas tentang standar konstruksi bangunan yang sudah disusun. Hal ini penting, karena bisa mengurangi angka korban pada saat terjadi gempa.

Moh. Ridwan menjawab ini: Badan Litbang PUPR sebenarnya aktif mensosialisasikan ke antara lain beberapa Universitas dengan maksud agar bisa menyebar lagi ke masyarakat. Jawaban ini memancing respon dari peserta diskusi, bahwa mereka mengharapkan PUPR agar lebih aktif dalam soal sosialisasi ini ke masyarakat yang lebih luas.

Sukmandaru bahkan menambahkan dengan memberi contoh, bahwa Badan Geologi cukup rajin memproduksi infografis dan video pendek yang mengedukasi masyarakat melalui media sosial tentang bahaya gempa dan cara menghadapinya.

Trinirmalaningrum juga menambahkan, bahwa banyak LSM yang memiliki kapasitas untuk membantu PUPR dalam mensosialisasikan temuan atau ilmu yang dimilikinya ke masyarakat dengan bahasa yang populer atau dengan media yang populer, seperti media sosial.

Moh. Ridwan menanggapi respon ini dengan positif dan bersemangat, karena menurutnya PUPR memang harus memiliki hubungan dekat dengan berbagai lapisan masyarakat, terutama LSM.

Trinirmalaningrum dalam presentasinya memaparkan kerjasama LSM yang dipimpinnya (Perkumpulan SKALA) yang selama ini bersama dengan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), BNPB, BPPT dan Kemenko Maritim, Aksi Cepat Tanggap (ACT). Kerjasama ini membuatnya memiliki ilmu pengetahuan yang lebih dalam tentang ancaman gempa dan tsunami di beberapa wilayah Indonesia bagian timur. Itu sebabnya kerjasama ini telah menghasilkan sebuah riset kecil selama 2 minggu di wilayah Sulawesi Tengah pada bulan Mei 2017 lalu. Sebagaimana sudah lama dinyatakan oleh para ahli geologi, Sulawesi Tengah ternyata menyimpan potensi gempa yang bisa lebih besar daripada Sumatra, sehingga memerlukan program program PRB.

Riset kecil itu bertujuan untuk merancang sebuah ekspedisi yang telah lama ingin dilaksanakan oleh banyak aktivis kebencanaan, yaitu program PRB yang kreatif dan inovatif di Sulawesi Tengah. Ekspedisi atau program PRB ini direncanakan akan menghasilkan belasan documentary yang akan ditayangkan di televisi swasta, serta serangkaian buku dan foto serta diskusi, seminar dan training.

Sayangnya, menurut Trinirmalaningrum dan Sukmandaru, ekspedisi ini belum mendapat sponsor atau pendukung yang serius, meski sudah melakukan pendekatan ke berbagai pihak, termasuk pemerintah dan swasta.

Tim ekspedisi juga telah membuat website di http://ekspedisipalukoro.co untuk mensosialisasikan rencana ekspedisi ini, bahkan juga sudah membuat program kampanye di http://kitabisa.com/palukoro untuk menggalang dana dari mereka yang ingin mendukung atau menjadi sponsor.