Ekspedisi Palu-Koro 23/07/2018 – Foto di atas adalah foto patung Palindo yang terkenal di Sulawesi Tengah dekat danau Lore Lindu. Patung ini muncul dalam logo perhelatan balap sepeda Internasional yang akan berlangsung di Sulawesi Tengah bulan Oktober 2018 ini. Patung yang menjadi ikon penting Universitas Tadulako di Palu terbuat dari bongkahan batu granit yang dipahat dengan halus. Apa alat yang digunakan untuk memahat batu granit yang terkenal keras itu?

Seorang geolog, Danny Hilman yang saya wawancari pertengahan tahun lalu di Geoteknologi LIPI Bandung menyebut, bahwa hingga sekarang masih menjadi misteri tentang alat yang digunakan untuk memahat patung di atas. Ada ribuan artefak yang terbuat dari batu granit yang tersebar di 3 lembah di Sulawesi Tengah, yaitu di lembah Bada, Napu dan Besoa. Ada arkeolog menyebut usia batu ini 3000 tahun lebih.

Di jaman modern sekarang, lanjut Danny, diperlukan pemotong (gerinda) yang menggunakan intan. Pemotong ini diameternya paling besar kira-kira 1 meter saja. Namun di 3 lembah ini ditemukan misalnya artefak berbentuk tempayan besar yang diameternya lebih dari 2 meter dan berlubang. Arkeolog menyebutnya artefak ini dengan kalamba yang berguna untuk tempat menyimpan benda berharga atau tempat menyimpan jenazah sebelum dipindahkan ke tempat lain. Pahatannya terlihat halus sekali, seperti menggunakan gerinda.

Siapa yang sangka jika sebagian jawabannya ada dalam gambar-gambar di piramid Mesir. Arkeolog menemukan gambar cara memotong atau memahat batu dengan bantuan garpu tala. Ya, diduga orang di Mesir ini menggunakan alat-alat akustik untuk memotong atau memahat batu. Garpu tala digunakan untuk menggetarkan peralatan pahat atau pemotong batu sehingga batu menjadi seakan lunak. Namun yang masih menjadi misteri adalah alat pemotong atau pahatnya terbuat dari apa?

Gambar-gambar lain menunjukkan cara membelah, memotong atau memahat batu dengan bantuan pasir tertentu. Cara ini sudah diuji dan ternyata memang dengan bantuan pasir tertentu, batu granit mudah dipotong atau dipahat. Sekali lagi masih menjadi misteri alat apa yang digunakan untuk memotong atau memahat. Mungkin sekali mereka menggunakan alat yang terbuat dari intan.

Ekspedisi Palu-Koro yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2018 ini akan menelusuri banyak aspek di Sulawesi Tengah. Penelusuruan situs-situs megalitik di Sulawesi Tengah adalah salah satunya. Apakah situs megalitik ini betul dari masa 5000 tahun lalu sebagaimana dispekulasikan banyak orang? Atau hanya dari masa 1000 tahun, bahkan kurang? Menurut catatan Belanda yang menghidupkan kota Poso pertama kali, saat itu masih banyak orang di sekitar wilayah itu yang hidup dalam budaya megalitik, seperti menempatkan jenazah di dalam tempayan batu (Kalamba).

Mari kita tunggu hasil dari Ekspedisi Palu-Koro dalam bentuk buku dan seri film dokumenter yang akan ditayangkan di televisi.

#EkspedisiPaluKoro