Ekspedisi Palu-Koro Berjalan Berkat Dukungan Pemerintah New Zealand

Indonesia adalah negeri kepulauan terbesar di dunia; Memiliki 17.500 pulau dan 99.000 km garis pantai, kedua terpanjang di dunia. Luas Indonesia 5,8 juta km² dan ¾ bagiannya adalah laut.

Ada 3 lempeng tektonik yg bersinggungan di wilayah Indonesia. Persinggungan beberapa lempeng ini menghasilkan 295 titik sesar aktif yang kemudian memicu gempa bumi kecil dan besar menurut siklusnya. Ini adalah ancaman besar yang mengintai berbagai wilayah Indonesia.

Bukan hanya gempa bumi saja yang dihasilkan oleh sebuah sesar, tetapi jika gempa terjadi di laut, maka akan menimbulkan tsunami sebagaimana yang sudah terjadi di beberapa tempat dalam sejarah Indonesia.

Sebuah sesar juga dinyatakan oleh para ahli geologi dapat mengaktifkan kegiatan gunung berapi yang kita ketahui juga mengakibatkan bencana gunung meletus.

Namun demikian di balik kerawanan itu, tersembul keindahan, keunikan dan kekayaan alam, serta kebudayaan yang hidup di atas sesar itu. Adanya sesar juga menyimpan potensi energi dan sumber mineral yang bisa menjadi kekuatan ekonomi dan sosial serta politik sebuah wilayah. Apa saja potensi kekuatan dari balik sesar? Ekspedisi Palu-Koro akan mengungkapnya (https://ekspedisipalukoro.co ).

 

Apa Itu Ekspedisi Palu-Koro?

Untuk mengungkap semua potensi itu Perkumpulan SKALA bersama dengan IAGI, ACT dan lainnya menggagas upaya kreatif PRB (Pengurangan Risiko Bencana) melalui Ekspedisi Palu-Koro. Hasil ekspedisi ini akan berbentuk beberapa penerbitan buku dan seri dokumenter yang akan ditayangkan di televisi swasta.

Ekspedisi juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dan semua pihak yang berkepentingan tentang kawasan rawan bencana, yaitu dengan cara mengekspose keindahan, keunikan dan kekayaan alam serta kebudayaan yang hidup di atas kawasan rawan bencana itu.

Sisipannya adalah beberapa kajian ilmiah yang berkaitan dengan bencana dan sumber daya alam, seperti sejarah geologi atau tektonik, sumber daya alam (tambang mineral), energi, dan kajian geo wisata.

Seri dokumenternya akan bisa “didistribusikan” sebagai bahan sosialisasi tentang Pariwisata dan sekaligus Pengurangan Resiko Bencana (PRB) yang sekarang mulai digalang oleh Pemerintah lebih dari 1 dekade belakangan ini.

 

Siapa Yang Terlibat?

Ekspedisi ini melibatkan sejumlah peneliti dan pakar bidang kebudayaan, antropologi, sosiologi, sejarah, geologi, gempa, dan manajemen bencana dan yang mewakili berbagai institusi pemerintah, lembaga riset nasional dan perguruan tinggi juga media.  Mereka antara lain: BNPB, BPBD, BPPT, LIPI, ITB, UI, IAGI, dan Platform Nasional (Planas) untuk PRB serta Perkumpulan SKALA, Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan DisasterChannel.co. Juga termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Sosial.

Ekspedisi ini juga melibatkan juga sektor pariwisata agar setiap episode dapat menjadi acuan pariwisata dari tiap wilayah yang diekspos.

Output yang penting dari ekspedisi ini adalah serangkaian photo profesional, diskusi atau seminar dan penerbitan beberapa buku dengan tema atau kajian yang berbeda. Termasuk juga seminar internasional untuk memperingati bencana gempa dan tsunami besar di wilayah Teluk Palu pada tahun 1927.

 

Kapan Ekspedisi Berjalan?

Pada konferensi pers di Jakarta tanggal 27 Juli lalu di gedung BNPB, jalan Pramuka, ketua tim ekspedisi Trinirmalaningrum menyampaikan bahwa tim akan berangkat tanggal 29 Juli ke Palu dan 31 Juli mengadakan konferensi pers lagi bersama media di Sulawesi Tengah. Menjadi nara sumber dalam konferensi pers tanggal 27 Juli antara lain: Sukmandaru Prihamoko (ketua IAGI), Lilik Kurniawan (BNPB), dan Syuhelmeidi Syukur (ACT). Acara dibawakan oleh ketua tim ekspedisi, Trinirmalaningrum dari Perkumpulan SKALA.

Tanggal 1 Agustus ekspedisi mulai menyusuri wilayah Kulawi dan sepanjang jalur sesar di Sulawesi Tengah. Wilayah itu antara lain adalah Poso hingga 3 lembah yang ada ribuan artefak dari jaman megalitik. Titik ekspedisi juga termasuk wilayah konservasi alam, seperti danau Lore Lindu dan beberapa pulau (Lingayan dan Togean).

 


Lihat juga berbagai berita tentang Ekspedisi Palu-Koro:

http://www.okebung.com/ekspedisi-palu-koro-berjalan-berkat-dukungan-pemerintah-new-zealand/

http://www.netralnews.com//news/kesra/read/152032/ini-latar-belakang-dijalankannya-ekspedisi-palu-koro

https://news.okezone.com/read/2018/07/27/337/1928256/ekspedisi-palu-koro-siap-ungkap-potensi-gempa-di-balik-patahan-bumi

https://www.jawapos.com/nasional/humaniora/27/07/2018/bahayanya-sesar-palu-koro-di-sulteng-yang-pernah-telan-250-korban-jiwa

https://m.antaranews.com/berita/730570/ekspedisi-palu-koro-untuk-tingkatkan-kesadaran-masyarakat

https://bnpb.go.id/ekspedisi-palu-koro-sebagai-upaya-prb

PublikSatu: Situs Megalitikum di Sulawesi Tengah Terancam Rusak