Gempa besar dan tsunami sudah berkali-kali melanda beberapa wilayah Indonesia. Setidaknya sejak tahun 2004, Aceh menjadi tonggak awal gempa besar dan tsunami. Wilayah Palu dan Donggala adalah wilayah terbaru yang tertimpa gempa besar dan tsunami dengan jumlah korban terakhir hampir mencapai 2 ribu orang tewas dan akan masih terus bertambah. Padahal Lombok yang sebelumnya ditimpa gempa besar masih belum pulih.

Wilayah mana lagi yang akan tertimpa bencana?

Ahli geologi sudah bisa memperhitungkan wilayah mana saja yang akan tertimpa gempa dan tsunami, bahkan besarnya gempa juga sudah bisa diperhitungkan. Pemerhati bencana alam seperti saya rajin mengikuti hasil-hasil temuan para ahli geologi ini. Wilayah Sulawesi Tengah dan NTT sudah diperhitungkan sebelumnya. Hanya perhitungan waktunya saja yang tidak bisa diperhitungkan dengan tepat, namun siklusnya diperhitungkan bisa sekitar 100 tahun lebih.

Jika para ahli bisa memperhitungkan itu, mengapa kita nampak terus tergagap saat gempa besar dan tsunami terjadi? Bukankah kita bisa melakukan sesuatu untuk meminimalisir angka korban dan angka kerugian? Apa saja yang mesti kita persiapkan?

UNDP dan UN-Ocha dalam beberapa tahun terakhir ini sibuk berkampanye tentang pentingnya berinvestasi dalam mitigasi bencana. Tagline mereka berbunyi: “Every 1 dollar spent on preparedness saves 7 dollars in emergency response. Act Now, Save Later!” Satu dollar yang diinvestasikan dalam mitigasi bencana akan menyelamatkan 7 dollar saat terjadi bencana. Kampanyenya tersebar di berbagai media platform, termasuk Facebook. Jadi kita memang bisa mengurangi angka korban dan angka kerugiaan yanag diakibatkan oleh bencana gempa besar dan tsunami.

Indonesia sebenarnya sudah mulai mensosialisaikan konsep mitigasi bencana, setidaknya sejak sekitar 10 tahun terakhir ini, yaitu sejak UU Kebencanaan diluncurkan tahun 2007 lalu dan Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) didirikan tahun 2008. Namun nampaknya sosialisasi konsep mitigasi bencana ini masih harus terus digiatkan lagi, karena belum terlihat terbangunnya awareness di kalangan masyarakat dan pemerintah daerah. Sebuah website untuk itu juga sudah dibuat (http://risikobencana.co). Saya terlibat di awal pembuatan website itu bersama BNPB, namun nampaknya upaya sosialisasi mitigasi atau Pengurangan Risiko Bencana (PRB) harus lebih serius lagi dilakukan. Semua media platform, tentu termasuk media sosial harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, sehingga pembuatan website itu tidak sia-sia.

Mengapa Indonesia harus lebih giat mensosialisasikan konsep mitigasi bencana atau PRB?

Wilayah Indonesia merupakan lokasi pertemuan beberapa lempeng tektonik. Yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Pertemuan dua lempeng itu terjadi di sebelah barat dari ujung utara Sumatera, ke selatan Jawa hingga selatan Kepulauan Lesser Bali dan Nusa Tenggara.

Pertemuan beberapa lempeng tektonik ini menghasilkan beberapa megathrust yang merupakan salah satu jenis sumber gempa bumi besar di Indonesia. Mekanismenya adalah sesar naik dan ukurannya sangat besar yang terbentuk dari proses tumbukan antara dua lempeng tektonik. Megathrust berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan yang sangat besar. Kita semua sudah melihat itu di Aceh pada tahun 2004. Megathrust dapat menghasilkan gempa besar hingga 9,5 skala magnitudo. Selat Sunda adalah salah satu wilayah yang menyimpan Megathrust.

Apakah Jakarta terancam gempa besar?

Berbagai catatan sejarah memuat informasi tentang gempa di masa lalu, seperti yang dibuat oleh ahli gempa Jerman Winchmann (1918). Menurutnya pernah terjadi gempa bumi besar yang berasal dari sumber gempa di sekitar Jakarta dan menimbulkan kerusakan berat di wilayah Jakarta serta kota-kota lain di sekitar Jawa Barat dan Lampung. Setidaknya tercatat 3 kali gempa besar pernah terjadi, yaitu pada 5 Januari 1699, 22 Januari 1780 dan 10 Oktober 1834.

Sedangkan dalam 10 tahun ke belakang, Jakarta ikut terguncang cukup hebat oleh setidaknya ada 4 gempa bumi, diantaranya Gempa Indramayu 9 Agustus 2007, Gempa Tasikmalaya 2 September 2009, Gempa Tasikmalaya 15 Desember 2016 dan Gempa Lebak 23 Januari 2018. Jakarta memang rentan terhadap gempa bumi besar yang sumbernya ada di sekitar Jakarta, terutama di bagian selatan.

Belum ada cara untuk ‘memprediksi dengan akurat’ kapan waktu persis gempa mendatang, juga titik persis sumber gempanya. Namun ahli geologi dapat menentukan siklus sebuah gempa besar di sebuah wilayah. Itu berarti kita dapat memperhitungkan pula dampak gempa yang akan terjadi.

Jakarta mungkin sekali dilanda gempa besar, namun sumbernya bukan di Jakarta, tetapi  terutama dari sekitar Jakarta, terutama di selatan. Selat Sunda yang menyimpan Sunda Megathrust mampu menggoyang Jakarta dengan kuat sekali, sehingga dikuatirkan akan bernasib seperti Mexico City di tahun 1985 yang gedung-gedungnya nyaris rata dengan tanah.

Kondisi Geologi Jakarta sebenarnya agak gawat. Mengapa?

Lapisan tanah dan batuan yang ada di wilayah Jakarta justru memperkuat getaran gempa yang berasal dari sekitar Jakarta. Tanah Jakarta merupakan sedimen lunak yang mengisi cekungan geologi yang terdiri dari tiga Kelompok Fasies Endapan Kuarter dengan ketebalan mencapai 250 meter dibagian Utara dan menipis ke arah Selatan dengan ketebalan 40 meter. Kondisi tanah yang seperti itu bisa memperkuat dampak gempa.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyampaikan beberapa waktu lalu sebagaimana dimuat di berbagai media, bahwa lapisan tanah lunak atau tanah lempung di Jakarta bisa mengamplikasi getaran gempa dari sekitar Jakarta. Tanah lunak atau tanah lempung di bagian utara Jakarta ini berasal dari endapan pantai dan banjir di masa belasan ribu tahun lalu. Di bawah lapisan itu ada lapisan lempung vulkanik. Ini artinya tanah ini bisa amblas terbenam (likuifaksi) seperti yang terjadi di Perumahan Petobo, Palu baru-baru ini.

Badan Geologi sudah mengamati dan menghitung berapa besar amplikasi gempa-gempa di Jakarta yang berasal dari luar Jakarta.  Ternyata Jakarta bagian utara mengamplikasi gempa sebesar 2 kali.

Jakarta adalah “sister city” dari Mexico City yang dihantam gempa pada tahun 1985. Saat itu hampir semua bangunan di kota Mexico rata dengan tanah. Para ahli menyebut sumber gempa berjarak sekitar 380 km di garis pantai Pasifik Mexico. Namun lapisan lempung vulkanik di atas Mexico mengamplikasi gempa menjadi 4-5 kali.

Ahli geologi Andang Bachtiar pun sudah menyampaikan perhitungannya tentang dampak Sunda Megathurst sejak beberapa tahun lalu. Menurutnya perkiraan besar gempa bisa sekitar 8,7SR. Namun bukan itu satu-satunya ancaman bagi Jakarta, karena masih ada beberapa gempa dari selatan Jawa bagian barat yang mengancam Jakarta. Sesar Cimandiri dan Sesar Lembang adalah 2 sesar yang mengancam Jakarta.

Kita hidup di jaman digital. Segala informasi sekarang dapat kita temukan dengan mudah. Begitu juga informasi tentang ancaman gempa besar yang sudah ditemukan dan disampaikan oleh para ahli. Jadi mari bersiap menghadapi gempa besar dengan informasi yang sudah bertebaran tersedia di berbagai media.

Jojo Rahardjo