Tepat didalam kegiatan diseminasi tahunan Puslit Geoteknologi LIPI saya bertemu dengan Mas Anwar wartawan Tempo wilayah Bandung dan dimuat. Saya jelaskan kemungkinan karakteristik gempabumi di Sesar Palukoro ini… bahwa jika kebiasaan Sesar Utama bergerak didahului oleh gempabumi dari sesar minor yang tegaklurus… jika benar adalah dua tahun setelah 2012 yaitu di tahun 2014… saya berharap perhitungan ini salah dan ternyata tidak terjadi gempabumi di tahun 2014… dan kemudian terjadi gempabumi Magnitud 7.4 tahun 2018 sekarang (informasi yang sama saya sampaikan ke Ahmad Arif Kompas dan juga ketika sosialisasi dengan Ekspedisi Sesar Palukoro ditahun 2017 – setelah saya lulus).


Sesar Palukoro – Sesar Matano adalah bagian tersulit studi S3 saya. Wilayah Sulawesi bagian tengah ini sangat kompleks dan juga milestone penelitian yang membingungkan. Hal pertama yang saya lakukan adalah memberikan tatanama yang berdasarkan nama-nama morfologi lokal (seperti sungai dsb).

Dengan berbekal citra IFSAR eceran (beli dengan kotak-kotak kecil daerah tertentu, meski diakhir studi mendapatkan data IFSAR seluruh wilayah Sulawesi bagian Tengah punya pemerintah (=meskipun saya juga orang pemerintah)) dan citra “gratisan” SRTM 90meter berhasil menemukan pergeseran sungai yang kentara jelas di Sungai Muara Saluki. Berbekal dengan hasil penelitian awal ini saya mendapatkan dana untuk pergi ke lapangan selama 17 hari dengan target menemukan bukti retakan gempabumi tua. Dengan ditemani teknisi (Sukoco dan Nandang Supriatna) dan mahasiswa S1 Jessica Candra akhirnya berhasil menemukan pergeseran mendatar meng-kiri 5.5 meter dan vertikal 1.5 meter. Kemudian hasil uji paritan juga terlihat jelas 6 jejak gempabumi tua.

Dengan keterbatasan jumlah sample uji AMS karbon dating akhirnya dapat diketahui bahwa gempa terakhir adalah kejadian 1909 yang sesuai juga dengan buku Abendanon (1917) yang merupakan saksi kejadian gempa di tahun 1907 dan tahun 1909. Pada tahun 2012 terjadi gempabumi Magnitud 6 di Danau Lindu. Saya bersama kolega GREAT mendapatkan kesempatan untuk mempelajari kejadian gempabumi ini dan hasilnya menunjukkan bahwa gempabumi 2012 ini identik dengan kejadian gempabumi 1907 (yang kita tahu 2 tahun berikutnya disusul dengan gempabumi yang lebih besar pada tahun 1909). Kekuatiran ini saya sampaikan ke senior peneliti Prof. Hery Harjono (Pak Hery). Pak Hery bilang kesaya untuk berani dan harus memberikan informasi ini ke masyarakat.

Tepat didalam kegiatan diseminasi tahunan Puslit Geoteknologi LIPI saya bertemu dengan Mas Anwar wartawan Tempo wilayah Bandung dan dimuat. Saya jelaskan kemungkinan karakteristik gempabumi di Sesar Palukoro ini… bahwa jika kebiasaan Sesar Utama bergerak didahului oleh gempabumi dari sesar minor yang tegaklurus… jika benar adalah dua tahun setelah 2012 yaitu di tahun 2014… saya berharap perhitungan ini salah dan ternyata tidak terjadi gempabumi di tahun 2014… dan kemudian terjadi gempabumi Magnitud 7.4 tahun 2018 sekarang (informasi yang sama saya sampaikan ke Ahmad Arif Kompas dan juga ketika sosialisasi dengan Ekspedisi Sesar Palukoro ditahun 2017 – setelah saya lulus).

Ketika gempabumi 2018 ini terjadi, WA Pak Hery langsung menanyakan apakah benar ini adalah gempabumi yang saya tunggu – awalnya saya Ya dan Bukan – Ya, karena memang gempabumi di tiap segmen Sesar Palukoro adalah mampu menghasilkan gempabumi Magnitud 7 dan Bukan, karena lokasi sumber gempabumi adalah di utara Segment Palu (Segmen paling utara didarat). Setelah data interferrometri pergerakan deformasi didarat akhirnya jelas terlihat bahwa gempabumi ini juga telah menggerakkan Segmen Saluki – lokasi dimana saya menemukan bukti kejadian gempabumi 1909.

Berarti Ya – ini gempa yang saya tunggu. Tetapi saya tidak pernah menduga sedasyat ini….


Dikutip dari akun Facebook Dr. Mudrik R. Daryono

Video wawancara Dr. Mudrik dapat di lihat di sini: 

Klik untuk melihat video

#EkspedisiPaluKoro